Semenjak ditetapkannya Kota Samarinda sebagai wilayah KLB Difteri oleh Pemerintah Kota Samarinda, wargapun mulai gusar dan panik dengan status KLB tersebut.

Bagaimana tidak, kasus Difteri yang pertama kali ditemukan di Surabaya, Jawa Timur ini begitu cepat menyebar keseluruh provinsi di Indonesia. Yang telah menyebabkan  32 orang meninggal dunia dari 593 kasus  (data Kemenkes 2017).


Difteri merupakan penyakit sangat menular yang disebabkan oleh kuman "corynebacterium diptheriae".

Difteri menimbulkan gejala dan tanda berupa demam yang tidak begitu tinggi,   sekitar 38 derajat celcius, muncul "pseudomembran" atau selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan yang mudah berdarah jika dilepaskan, sakit waktu menelan, tenggorokan terasa sakit, serta suara serak.

Penyakit dipteri sendiri adalah penyakit “kuno” yang sudah lama menghilang dari Indonesia. Lalu, bagaimana penyakit difteri yang seharusnya tidak boleh lagi ada di Indonesia ini masih saja menjadi “musuh” yang masih bisa menyerang kapan saja?

Salah satu faktor utamanya ialah kekebalan tubuh penduduk di suatu wilayah yang menurun. Terjadi kesenjangan kekebalan tubuh terhadap penyakit difteri pada suatu kelompok sehingga bakteri mudah menyerang. Salah satu pencegahan utama untuk penyakit difteri ialah dengan imunisasi.

Vaksin untuk imunisasi difteri ada 3 jenis, yaitu vaksin DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda. Imunisasi difteri diberikan melalui Imunisasi Dasar pada bayi di bawah 1 tahun sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak 1 bulan.

Selanjutnya, diberikan imunisasi lanjutan (booster) pada anak umur 18 bulan sebanyak 1 dosis vaksin DPT-HB-Hib, pada anak sekolah tingkat dasar kelas 1 diberikan 1 dosis vaksin DT, lalu pada murid kelas 2 diberikan 1 dosis vaksin Td, kemudian pada murid kelas-5 diberikan 1 dosis vaksin Td.

Pemberian vaksin ini harus dilakukan secara lengkap sesuai dengan jadwalnya, bahkan setelah usia 18 tahun juga masih perlu diberikan. Sehingga jika vaksin hanya dilakukan sekali saja, itu belum bisa melindungi tubuh dari difteri. 

Program imunisasi yang tidak lengkap, program imunisasi yang tak tercapai sempurna, adanya gerakan antivaksin di masyarakat, tidak adanya pelaksanaan vaksin tiap kurun waktu 10 tahun, dan kesadaran masyarakat yang sangat kurang tentang bahaya penyakit difteri menyebabkan penyakit ini kembali merebak di Indonesia.


Difteri bisa efektif dicegah dengan vaksin apabila capaian imunisasi mencakup 95 persen dari yang ditargetkan. Ketika cakupan imunisasi mencapai 95 persen maka akan terbentuk kekebalan kelompok di mana bakteri tidak bisa berkembang. Secara otomatis, 5 persen yang tidak divaksin akan terlindungi dari 95 persen penduduk yang imun terhadap difteri.


Kementerian Kesehatan mengungkapkan 66 persen dari kasus kejadian luar biasa (KLB) difteri yang terjadi sepanjang 2017 di seluruh Indonesia akibat pasien tidak diimunisasi. sebanyak 31 persen imunisasi kurang lengkap dan 3 persen  lainnya imunisasi lengkap.

 

                    Cara penularan difteri

· Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga. 

· Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk. Maupun saat berbagi makanan atau minuman dengan penderita.

· Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.


Puskesmas Air Putih tidak tinggal diam dalam mengahadapi kepanikan masyarakat terhadap status KLB Difteri di Samarinda.  Berbagai macam upaya telah di-lakukan pihak Puskesmas Air Putih termasuk sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat di dalam gedung puskesmas maupun luar gedung Puskesmas  serta advokasi  dan koordinasi  di sekolah-sekolah.

Beberapa sekolah yang didatangi adalah MI Sulammul, SDN 010, SDN 004, MTS Antasari, MAN 1 dan SMA 5. Tidak hanya itu, sosialisasi juga  dilakukan di TK Melati Putih yang sasarannya adalah orang tua Murid.

Antusias siswa/siswi sangat besar saat mendengarkan penjelasan     tentang penyakit difteri oleh dokter Puskesmas Air Putih. Kesadaran akan pentingnya mengetahui sebab, gejala dan pencegahan penyakit difteri ini yang patut dicontoh seluruh lapisan masyarakat agar kiranya penyakit difteri ini tidak lagi “menghantui” Indonesia.

 

MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI

  JAGA DAYA TAHAN TUBUH KITA  DENGAN MAKAN MAKANAN SEHAT SEIMBANG,  TIDAK BEGADANG, DAN MELAKUKAN AKTIFITAS FISIK SECARA        TERATUR

  SELALU MENCUCI TANGAN SETELAH BEPERGIAN APALAGI SEBELUM MAKAN

  SELALU MENJAGA KESEHATAN TUBUH DAN LINGKUNGAN AGAR BAKTERI Corynebacterium diphtheriae  TIDAK BERKEMBANG DISEKITARAN KITA  

  SELALU MEMAKAI MASKER KETIKA BEPERGIAN  UNTUK MENGHINDARI        MASUKNYA BAKTERI Corynebacterium diphtheriae PENYEBAB PENYAKIT DIFTERI  KEDALAM SALURAN PERNAFASAN KITA


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Selamat datang di Website Resmi Upt Puskesmas Air Putih
SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI UPT PUSKESMAS AIR PUTIH JAM PELAYANAN PENDAFTARAN: 07.30-11.00 WITA